Berita Konstruksi BerkelanjutanBerita Terbaru

Transformasi Hijau: Guru Besar ITS Dorong Industri Nasional Terapkan Manufaktur Berkelanjutan

KONSTRUKSINEWS.ID – Di tengah ancaman krisis iklim global dan menipisnya cadangan sumber daya alam, sektor industri manufaktur berdiri di persimpangan jalan. Beralih ke praktik hijau bukan lagi sekadar pilihan atau jargon pelengkap Corporate Social Responsibility (CSR), melainkan kebutuhan mutlak untuk bertahan hidup. Menanggapi urgensi ini, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggaungkan pentingnya adopsi manufaktur berkelanjutan (sustainable manufacturing) bagi masa depan industri di Tanah Air.

Paradigma manufaktur tradisional yang berfokus pada pendekatan linier yakni “ambil, buat, dan buang” dinilai sudah tidak relevan. Konsep tersebut kini harus segera ditinggalkan dan digantikan dengan pendekatan yang lebih berwawasan lingkungan dan sirkular.

Guru Besar ke-242 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Maria Anityasari ST ME PhD IPU ASEAN Eng menggaungkan pentingnya penerapan sustainable manufacturing atau manufaktur berkelanjutan bagi dunia industri. Konsep tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di Indonesia.

Bukan Sekadar Isu Lingkungan, Tapi Strategi Bisnis

Banyak pelaku industri masih keliru memahami bahwa konsep berkelanjutan (sustainability) adalah beban biaya (cost) tambahan. Padahal, dari kacamata akademis dan riset terapan, hal ini adalah investasi jangka panjang.

Manufaktur berkelanjutan adalah sebuah sistem yang terintegrasi, di mana proses produksi dirancang untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, menghemat energi, dan melestarikan sumber daya alam. Pada saat yang sama, proses ini juga meningkatkan keamanan bagi pekerja, komunitas sekitar, serta produk yang dihasilkan.

Dengan menerapkan efisiensi energi, manajemen limbah yang baik, dan penggunaan bahan baku daur ulang, perusahaan sebenarnya sedang memangkas biaya operasional mereka. Di pasar global, produk yang dihasilkan dari pabrik hijau (green factory) juga memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi. Konsumen modern dan regulasi internasional seperti kebijakan di Uni Eropa kini menuntut standar ekologis yang ketat dari setiap barang yang masuk ke wilayah mereka.

Menurut Maria, konsep tersebut memungkinkan industri mengurangi konsumsi sumber daya sekaligus memperpanjang usia pakai produk melalui proses pengolahan kembali.

“Adanya perputaran resources membuat kita dapat mengurangi konsumsi sumber daya dan memberikan kehidupan kedua, ketiga, dan seterusnya pada produk,” jelasnya.

Peran Sentral Akademisi dan Inovasi Teknologi

Sebagai salah satu kampus teknologi terdepan di Indonesia, ITS terus mengambil peran aktif dalam mengawal transisi ini. Pemikiran-pemikiran revolusioner dari para Guru Besar ITS menekankan bahwa kolaborasi antara dunia akademis dan industri (triple helix) adalah kunci.

Beberapa langkah strategis yang didorong meliputi:

  1. Penerapan Teknologi Sirkular Ekonomi: Mengubah limbah sisa produksi menjadi bahan baku untuk proses produksi lainnya, atau yang dikenal dengan zero waste management.
  2. Optimalisasi Energi Terbarukan: Mengurangi ketergantungan pada energi fosil di dalam pabrik dan mulai beralih menggunakan panel surya atau biomassa.
  3. Desain Produk Berkelanjutan (Eco-Design): Merancang produk sejak tahap awal (R&D) agar lebih awet, mudah diperbaiki, dan mudah didaur ulang di akhir masa pakainya.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Tentu saja, transisi menuju manufaktur berkelanjutan di Indonesia bukan tanpa hambatan. Kendala utama meliputi biaya investasi awal untuk peremajaan mesin, kurangnya edukasi teknis di kalangan pekerja, serta regulasi pemerintah yang belum sepenuhnya memberikan insentif masif bagi industri hijau.

Meski demikian, desakan dari para pakar dan akademisi ITS diharapkan mampu membuka mata para pemangku kepentingan. Pemerintah dan pelaku industri harus duduk bersama merumuskan peta jalan (roadmap) industri hijau yang konkret.

Manufaktur berkelanjutan adalah jembatan menuju visi Indonesia Emas 2045. Tanpa komitmen untuk merawat bumi tempat pabrik-pabrik itu berdiri, pertumbuhan ekonomi yang dikejar hanya akan berujung pada kerugian ekologis yang tak ternilai harganya. Saatnya industri nasional melangkah maju, bukan hanya menjadi produsen yang efisien, tetapi juga pelindung bumi yang bertanggung jawab.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button