Desain Alat Pengomposan Ikut Menentukan Potensi Emisi Metana dari Sampah Organik

KONSTRUKSINEWS.ID — Pengelolaan sampah organik tidak cukup hanya dengan mengubah limbah menjadi kompos. Rancangan dan konstruksi peralatan yang digunakan dalam proses pengomposan juga perlu diperhatikan karena berkaitan dengan kondisi penguraian bahan organik dan potensi terbentuknya gas metana.
Sampah organik, terutama sisa makanan, menjadi salah satu jenis limbah yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian emisi. Ketika bahan organik terurai dalam kondisi minim oksigen atau anaerob, proses tersebut dapat menghasilkan metana (CH4), salah satu gas rumah kaca.
Karena itu, sistem pengolahan sampah dari sumber menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi potensi emisi. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendorong pemerintah kabupaten dan kota memprioritaskan penyelesaian sampah organik, khususnya sisa makanan, sedekat mungkin dengan sumber timbulan.
Koordinator Kelompok Kerja Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), Sanitary Landfill, dan Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca KLH, Andina Novita Tas’an, mengatakan sampah sisa makanan menjadi salah satu jenis sampah yang harus lebih dahulu ditangani pemerintah daerah.
Menurut Andina, pengolahan dapat dilakukan secara mandiri maupun menggunakan metode tertentu yang disesuaikan dengan kondisi wilayah. Pengomposan menjadi salah satu pilihan yang dapat diterapkan, termasuk melalui rumah kompos.
Setelah pengolahan dari sumber berjalan, pemilihan teknologi berikutnya perlu mempertimbangkan kemampuan sistem tersebut dalam menekan emisi. Artinya, tidak semua daerah harus menggunakan teknologi pengolahan yang sama.
Karakteristik sampah, kondisi lingkungan, kapasitas pengelolaan, hingga kebutuhan daerah menjadi sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan teknologi pengolahan.
Dalam konteks pengomposan, rancangan alat turut berperan dalam menciptakan kondisi yang sesuai bagi proses penguraian. Pengaturan sirkulasi udara, kelembapan, ukuran bahan, serta struktur ruang pengomposan dapat memengaruhi berlangsungnya proses biologis di dalam alat.
Pengomposan yang berlangsung dengan suplai oksigen memadai berbeda dengan proses penguraian anaerob. Kondisi anaerob pada bahan organik dapat meningkatkan terbentuknya metana, sementara pengelolaan yang tepat diarahkan agar proses penguraian berlangsung sesuai metode yang dirancang.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengurangan emisi dari sektor sampah tidak hanya bergantung pada tahap akhir pengolahan. Penanganan sejak sumber, pemilahan, pemilihan metode, hingga desain fasilitas pengolahan menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
KLH juga menekankan bahwa pengelolaan sampah sebaiknya tidak semata-mata berorientasi pada pengangkutan menuju TPA. Sampah organik yang dapat diselesaikan di tingkat sumber perlu diolah sedekat mungkin dengan lokasi timbulnya sampah.
Pendekatan tersebut sekaligus dapat mengurangi beban fasilitas pemrosesan akhir. Semakin banyak sampah organik yang dapat diolah sebelum masuk ke TPA, semakin kecil pula jumlah material organik yang berpotensi mengalami penguraian anaerob di lokasi penimbunan.
KLH sebelumnya menyebut sektor sampah menyumbang sekitar 61 persen emisi metana nasional. Sampah organik yang berakhir di TPA menjadi salah satu perhatian utama karena proses penguraiannya dapat menghasilkan metana.

