Pengembangan Kereta Api Nasional Diprioritaskan ke Luar Jawa dan Elektrifikasi

KONSTRUKSINEWS.ID — Pemerintah tengah menyusun arah pengembangan perkeretaapian nasional dengan memperluas perhatian ke sejumlah wilayah di luar Jawa. Peningkatan kapasitas jalur yang sudah tersedia, pembangunan jaringan baru berbasis angkutan komoditas, hingga elektrifikasi menjadi bagian dari agenda pengembangan tersebut.
Asisten Deputi Konektivitas Darat dan Perkeretaapian Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) Hermin Esti Setyowati mengatakan optimalisasi jaringan yang telah ada menjadi salah satu fokus utama pemerintah.
Menurut Hermin, peningkatan kapasitas dapat dilakukan melalui pembangunan jalur ganda, pembaruan sistem persinyalan, serta penyambungan sejumlah segmen rel yang hingga kini belum terhubung.
Langkah tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat jaringan perkeretaapian di Sumatra. Saat ini, konektivitas jalur kereta di pulau tersebut belum sepenuhnya tersambung dari Aceh hingga Lampung.
Pemerintah menilai optimalisasi jaringan eksisting dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dibandingkan membangun jaringan baru secara keseluruhan. Selain membutuhkan investasi yang relatif lebih rendah, peningkatan kapasitas jalur yang sudah tersedia juga dapat memberikan dampak lebih cepat terhadap layanan angkutan.
Salah satu manfaat yang dibidik adalah peningkatan frekuensi pengiriman barang, terutama komoditas dengan nilai ekonomi tinggi.
Jalur Baru Berbasis Komoditas
Setelah peningkatan jaringan eksisting, pemerintah menempatkan pembangunan jalur baru berbasis angkutan komoditas sebagai salah satu prioritas berikutnya.
Pengembangan tersebut terutama diarahkan ke Kalimantan dengan mempertimbangkan potensi angkutan barang, termasuk sektor pertambangan serta konektivitas menuju kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Hermin menjelaskan bahwa jaringan yang dibangun berdasarkan potensi komoditas memiliki prospek pembiayaan karena kebutuhan angkutan dan pasar telah dapat dipetakan sejak tahap awal.
Selain pertambangan, pemerintah juga melihat peluang dari sektor pariwisata yang berpotensi menghasilkan volume perjalanan dalam skala besar.
Elektrifikasi Kereta Perkotaan
Agenda berikutnya adalah mendorong penggunaan energi listrik pada layanan kereta yang memiliki tingkat kepadatan tinggi. Konversi dari sarana berbasis diesel ke listrik dipertimbangkan untuk sejumlah koridor perkotaan, antara lain Medan, Palembang, dan Bali.
Namun, elektrifikasi membutuhkan dukungan pasokan listrik yang stabil serta investasi awal yang cukup besar. Oleh sebab itu, penerapannya dinilai lebih sesuai untuk wilayah dengan tingkat kepadatan perjalanan yang tinggi.
Sementara untuk jalur logistik jarak jauh yang berada di luar kawasan perkotaan padat, pemerintah mempertimbangkan teknologi lain seperti kereta diesel-elektrik serta sumber energi alternatif, termasuk hidrogen dan baterai.
Kebutuhan Investasi Capai Rp350 Triliun
Pengembangan jaringan perkeretaapian, khususnya di luar Jawa, membutuhkan investasi dalam skala besar. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya memperkirakan kebutuhan investasi untuk pengembangan jaringan kereta api dapat mencapai sekitar Rp350 triliun.
Di sisi lain, pemerintah juga kembali mengevaluasi arah pembangunan jaringan kereta api agar sejalan dengan kebijakan pemerintah saat ini.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Allan Tandiono mengatakan salah satu jaringan yang menjadi perhatian adalah Trans Sumatra.
Koridor Banda Aceh–Medan menjadi salah satu proyek yang berpotensi diprioritaskan. Jalur tersebut memiliki panjang sekitar 500 kilometer dan tengah dikaji sebagai salah satu proyek yang dapat memberikan hasil dalam waktu relatif cepat.
Pemerintah juga membahas pengembangan jaringan tersebut bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Selain konektivitas Banda Aceh–Medan, pemerintah mengkaji kemungkinan memperpanjang jaringan hingga wilayah paling selatan Sumatra. Salah satu rute yang masuk dalam pembahasan adalah koneksi menuju Lampung hingga Bakauheni.
Pengembangan tersebut masih berada dalam tahap studi bersama Kementerian Perhubungan dan KAI.
Dengan arah tersebut, pengembangan perkeretaapian nasional tidak hanya diarahkan pada pembangunan jalur baru, tetapi juga peningkatan pemanfaatan jaringan yang telah tersedia, penguatan angkutan logistik, serta penerapan teknologi energi yang disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah.

