BeritaBerita KonstruksiBerita Terbaru

Biaya Konstruksi Meningkat, REN Soroti Risiko Pasokan Rumah Subsidi

KONSTRUKSINEWS.ID — Kenaikan biaya pembangunan rumah menjadi salah satu persoalan yang semakin membebani pengembang hunian subsidi. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi keberlanjutan pasokan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) apabila tidak diimbangi dengan penyesuaian harga jual.

Real Estate Nusantara (REN) mencatat biaya produksi rumah terus mengalami kenaikan, sementara batas harga rumah subsidi belum mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh harga material bangunan, ongkos transportasi, bahan bakar, serta upah tenaga kerja.

Ketua Umum REN Alex sebelumnya menyampaikan bahwa peningkatan biaya konstruksi telah mempersempit ruang keuntungan pengembang. Dalam kondisi tersebut, pengembang menghadapi pilihan untuk tetap membangun rumah subsidi dengan margin yang semakin terbatas atau mengalihkan pengembangan ke segmen hunian komersial.

Persoalan harga tersebut menjadi semakin penting karena rumah subsidi merupakan bagian dari penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Apabila minat pengembang untuk masuk atau bertahan di segmen ini menurun, kapasitas pasokan rumah subsidi berpotensi ikut terdampak.

REN sebelumnya juga mengusulkan adanya penyesuaian harga rumah subsidi. Usulan tersebut muncul setelah harga jual relatif stagnan, sementara biaya pembangunan terus bergerak naik.

Di sisi lain, pemerintah perlu mempertimbangkan kemampuan daya beli MBR sebelum menetapkan perubahan harga. Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyatakan pembahasan mengenai usulan kenaikan harga masih memperhatikan masukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi pengembang.

Tekanan terhadap sektor rumah subsidi tidak hanya berasal dari biaya konstruksi. Sejumlah persoalan lain seperti ketersediaan lahan, perizinan, tata ruang, serta kemampuan calon konsumen memperoleh pembiayaan juga menjadi faktor yang memengaruhi kelancaran penyediaan hunian.

Dengan kondisi tersebut, keseimbangan antara harga jual yang terjangkau bagi MBR dan kelayakan usaha pengembang menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan dalam keberlanjutan program rumah subsidi.

Penyesuaian kebijakan harga, apabila dilakukan, perlu mempertimbangkan perkembangan biaya produksi sekaligus menjaga akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap hunian yang terjangkau.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button