Restorasi Rumah Raden Saleh di Cikini Telan Lebih dari Rp50 Miliar
Bangunan berusia sejak 1852 ditargetkan menjadi museum, galeri seni, dan ruang pertemuan setelah pemugaran rampung akhir 2026
KONSTRUKSINEWS.ID – Pemugaran Rumah Raden Saleh di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari Rp50 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk memperkuat struktur sekaligus mengembalikan karakter arsitektur bangunan bersejarah itu agar mendekati bentuk aslinya pada era 1850-an hingga 1860-an.
Ketua Pembina Yayasan Kesehatan PGI Cikini, Miranda Gultom, mengatakan besarnya kebutuhan biaya berkaitan dengan standar konservasi cagar budaya. Ketentuan tersebut mengharuskan karakter arsitektur asli bangunan tetap dipertahankan selama proses pemugaran.
“Biayanya tidak murah, lebih dari Rp 50 miliar, bisa membangun dua rumah baru,” kata Miranda dalam agenda Pemugaran Rumah Raden Saleh di Kapel Yayasan PGI Cikini, Jumat (30/10/2026).
Mengembalikan karakter bangunan abad ke-19
Rumah Raden Saleh merupakan bangunan berarsitektur Eropa yang berdiri sejak 1852. Pekerjaan restorasi ditangani PT Decorient Partaya Indonesia sejak akhir 2025. Fokus pekerjaan mencakup penguatan struktur dan pemulihan wujud fisik bangunan agar kembali mendekati desain yang dimilikinya pada pertengahan abad ke-19.
Proses tersebut tidak hanya menyasar bagian eksterior atau elemen historis. Interior bangunan juga disiapkan dengan sejumlah fasilitas modern, yakni pendingin udara, lift, dan toilet. Fasilitas itu ditambahkan untuk menunjang kenyamanan pengunjung, dengan tetap menjaga struktur utama bangunan sebagai cagar budaya.
Perencanaan proyek melibatkan Yori Antar sebagai arsitek masterplan dan Arya Abieta sebagai arsitek konservasi. Keduanya menangani rancangan yang memadukan kebutuhan pelestarian bangunan lama dengan rencana pemanfaatan baru bagi masyarakat.
Ditargetkan rampung akhir Desember 2026
Restorasi Rumah Raden Saleh ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026. Setelah pekerjaan pemugaran rampung, kawasan tersebut akan difungsikan sebagai ruang publik dengan beberapa peruntukan.
Rencana pemanfaatannya mencakup museum, galeri seni, serta ruang pertemuan bertaraf internasional. Dengan fungsi tersebut, bangunan tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan arsitektur, tetapi juga diarahkan menjadi tempat yang dapat diakses dan digunakan untuk kegiatan publik.
Pemanfaatan Rumah Raden Saleh sebagai ruang publik diharapkan mendekatkan generasi muda dengan seni, sejarah, dan akar budaya bangsa. Bangunan itu juga dipandang sebagai bukti kemampuan anak bangsa dalam merancang struktur arsitektur megah yang sejajar dengan bangunan Eropa pada abad ke-19.
Dengan demikian, proyek ini menggabungkan dua kebutuhan utama, yakni menjaga keaslian bangunan bersejarah dan menyediakan fasilitas yang sesuai bagi pengunjung masa kini. Nilai restorasi yang mencapai lebih dari Rp50 miliar mencerminkan kompleksitas pekerjaan konservasi yang harus mempertahankan karakter asli Rumah Raden Saleh sambil menyiapkan fungsi baru sebagai ruang publik.



