Berita Konstruksi

Tim Penyusun SKKNI Tinjau Bendungan Cijurey untuk Petakan Kompetensi Pekerja

Kunjungan ke proyek di Kabupaten Bogor itu mencakup peninjauan tahapan konstruksi dan jabatan kerja yang terlibat.

KONSTRUKSINEWS.ID – BOGOR — Direktorat Kompetensi dan Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi melakukan kunjungan lapangan ke Proyek Pembangunan Bendungan Cijurey, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 3 November 2026. Kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang bendungan agar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di lapangan.

Kunjungan tersebut dipimpin Direktur Kompetensi dan Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi Kimron Manik dan diikuti tim penyusun SKKNI. Mereka mempelajari pelaksanaan pembangunan bendungan secara langsung, termasuk proses bisnis, ruang lingkup pekerjaan, karakteristik proyek, serta jabatan kerja yang terlibat dalam berbagai tahapan konstruksi.

Menyelaraskan standar dengan kondisi proyek

Menurut Kimron, observasi lapangan diperlukan agar standar kompetensi yang disusun tidak hanya bertumpu pada kajian dokumen. Tim juga perlu melihat proses pembangunan, memahami pembagian pekerjaan, serta mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan pada setiap tahap proyek.

“Standar kompetensi yang disusun tidak hanya benar secara konsep, tetapi juga relevan dengan realitas pekerjaan di lapangan,” ujar Kimron Manik.

Dalam kegiatan itu, tim memperoleh pemaparan dari SNVT Pembangunan Bendungan II BBWS Citarum dan PT Brantas Abipraya mengenai perkembangan proyek. Bendungan Cijurey berada di wilayah Kecamatan Sukamakmur, Cariu, dan Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Bendungan tersebut merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional di sektor sumber daya air. Pembangunannya ditujukan untuk meningkatkan ketahanan air, mendukung layanan irigasi, menyediakan air baku, serta membantu mengurangi risiko banjir di wilayah sekitar.

Data teknis dan perkembangan pembangunan

Bendungan Cijurey dirancang sebagai bendungan urugan zonal dengan inti tegak. Infrastruktur ini memiliki tinggi 78 meter dan panjang puncak sekitar 614 meter. Waduk yang terbentuk diproyeksikan memiliki kapasitas tampungan sekitar 14,37 juta meter kubik.

Selain itu, bendungan tersebut direncanakan melayani daerah irigasi seluas 2.047 hektare. Fungsi tersebut menjadi bagian dari manfaat yang dipelajari tim penyusun untuk memahami hubungan antara karakteristik infrastruktur dan kebutuhan kompetensi tenaga kerja.

Peserta juga menerima penjelasan mengenai tahapan pekerjaan yang sedang berlangsung. Ruang lingkupnya meliputi pembangunan tubuh bendungan, bangunan pengelak, bangunan pelimpah atau spillway, pekerjaan hidromekanikal dan elektrikal, serta fasilitas operasi dan pemeliharaan.

Berdasarkan pemaparan dalam kunjungan, progres fisik pembangunan Bendungan Cijurey telah mencapai sekitar 39,90 persen. Sementara itu, pengadaan lahan telah mencapai sekitar 90 persen dari total kebutuhan lahan proyek.

Memetakan jabatan dan unit kompetensi

Observasi di lokasi juga digunakan untuk mengenali berbagai jabatan yang mendukung pembangunan bendungan. Tim berdiskusi dengan pelaku konstruksi dan mengamati tugas tenaga ahli bendungan, pengawas konstruksi, pelaksana lapangan, petugas keselamatan konstruksi, tenaga survei dan pengukuran, serta operator alat berat.

Selain jabatan tersebut, pembangunan juga melibatkan tenaga instrumentasi bendungan serta personel hidromekanikal dan elektrikal. Informasi mengenai tugas dan fungsi masing-masing tenaga kerja menjadi bahan untuk memastikan unit kompetensi dalam SKKNI mencerminkan kebutuhan dunia kerja.

Tim selanjutnya meninjau sejumlah titik pekerjaan untuk melihat perkembangan proyek dan keterkaitan antara fungsi infrastruktur dengan kompetensi sumber daya manusia. Pengamatan itu mencakup proses pekerjaan, pemanfaatan teknologi konstruksi, koordinasi antar pelaku proyek, dan kompleksitas kegiatan di lapangan.

Direktorat Kompetensi dan Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi menyatakan kunjungan tersebut diharapkan memperkuat kualitas penyusunan SKKNI agar lebih relevan dengan kebutuhan industri konstruksi dan perkembangan teknologi di sektor sumber daya air. Standar yang dihasilkan ditujukan untuk menjadi acuan yang adaptif dan implementatif dalam pengembangan tenaga kerja konstruksi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button