bGrid Targetkan Gedung Pertama Berteknologi Pintar Beroperasi di Indonesia dalam Dua Tahun
Ekspansi diawali pembangunan living lab untuk mendemonstrasikan teknologi kepada pasar lokal.
KONSTRUKSINEWS.ID – Perusahaan teknologi bangunan pintar bGrid menargetkan gedung pertama yang menggunakan teknologinya beroperasi di Indonesia dalam dua tahun ke depan. Sebelum merealisasikan proyek tersebut, perusahaan akan membangun living lab sebagai fasilitas demonstrasi bagi masyarakat dan pelaku industri lokal.
CEO bGrid Karl Van Ginderdeuren mengatakan, kehadiran fasilitas demonstrasi diperlukan untuk membuktikan manfaat teknologi ketika memasuki pasar baru. Langkah itu menjadi bagian awal dari rencana ekspansi bGrid di Indonesia.
“Target pertama kami adalah membangun living lab di sini agar kami dapat mendemonstrasikan teknologi ini kepada masyarakat dan pelaku industri lokal,” kata Karl dalam wawancara dengan Konstruksi Media pada Welcome Green x Smart Buildings Forum di Movenpick Hotel, Jakarta, Kamis (29/10).
Living lab sebagai tahap awal ekspansi
Setelah living lab dibangun, bGrid menargetkan memperoleh proyek pertama dan mengoperasikan gedung berteknologi perusahaan tersebut dalam dua tahun mendatang. Namun, target itu tidak berdiri sendiri karena penerapan teknologi bangunan membutuhkan tahapan desain dan perencanaan.
Karl menjelaskan, sistem bGrid harus diintegrasikan terlebih dahulu ke dalam bangunan sebelum dapat beroperasi. Waktu yang diperlukan untuk proses tersebut menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah target pengoperasian gedung pertama dapat tercapai.
“Saya ingin gedung pertama kami beroperasi dalam dua tahun ke depan,” ujarnya.
Meski demikian, Karl menyadari proses penerapan teknologi dapat berjalan lebih lama dari perkiraan. Menurut dia, perusahaan perlu bersikap realistis terhadap setiap tahapan yang harus dilalui dalam proyek bangunan, termasuk proses integrasi sistem.
Teknologi untuk mengintegrasikan data gedung
bGrid mengembangkan teknologi bangunan pintar yang menyelaraskan struktur data dari berbagai sistem dalam gedung. Dengan pendekatan tersebut, pengelola diharapkan lebih mudah memanfaatkan data untuk mendukung kebutuhan operasional bangunan.
Sistem bGrid juga dirancang agar lebih mudah dipasang dan diperbarui. Perusahaan menyederhanakan proses instalasi sekaligus mengotomatisasi commissioning, yakni tahapan untuk memastikan sistem bangunan dapat berfungsi sesuai rancangan.
Menurut Karl, integrasi data dapat membantu pengelola mengoptimalkan operasional bangunan. Pemanfaatan data tersebut juga dinilai dapat mendukung efisiensi energi dan meningkatkan kenyamanan pengguna gedung.
Indonesia dinilai siap mengadopsi teknologi pintar
Karl menilai Indonesia memiliki kesiapan untuk mengadopsi teknologi bangunan pintar. Namun, bGrid tetap perlu menunjukkan manfaat teknologinya melalui penerapan langsung pada proyek nyata.
Karena itu, living lab diposisikan sebagai sarana untuk memperkenalkan teknologi sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat dan pelaku industri lokal melihat cara kerjanya. Setelah tahap demonstrasi tersebut, perusahaan berharap dapat melanjutkan ekspansi melalui proyek gedung pertamanya di Indonesia.
Target pengoperasian dalam dua tahun tetap bergantung pada kesiapan desain, perencanaan, dan integrasi teknologi di dalam bangunan. bGrid pun mengakui bahwa realisasi rencana tersebut dapat membutuhkan waktu lebih panjang apabila tahapan proyek berlangsung di luar perkiraan.



