Ahli Keselamatan Proses Soroti Pentingnya Sistem Berlapis Usai Ledakan SPBE Cimuning
Warga dilaporkan mencium bau gas sebelum kebakaran dan ledakan, sementara penyebab resmi masih menunggu investigasi.
KONSTRUKSINEWS.ID – Ledakan di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning, Bekasi, menjadi perhatian dalam pembahasan keselamatan proses di fasilitas pengolahan dan pengisian LPG. Pemerhati process safety Slamet Suryanto menilai insiden besar umumnya tidak muncul tanpa tanda, sehingga indikasi bahaya perlu dikenali dan ditangani sejak awal.
Sejumlah warga di sekitar SPBE Cimuning dilaporkan mencium bau gas sebelum kebakaran dan ledakan terjadi. Meski demikian, penyebab resmi insiden tersebut masih menunggu hasil investigasi. Dalam catatannya yang berjudul “Pelajaran dari Cimuning (Bagian 1)”, Slamet menekankan pentingnya respons cepat terhadap gejala bahaya sebelum berkembang menjadi kecelakaan besar.
Kebocoran LPG Dapat Memicu Ledakan
Menurut Slamet, persoalan keselamatan proses bukan hanya mengenai kemungkinan terjadinya kebocoran. Pengelola fasilitas juga perlu memastikan bahwa sistem mampu mendeteksi serta mengendalikan kebocoran ketika kondisi tersebut benar-benar terjadi.
LPG memiliki energi tinggi dan dapat menjadi berbahaya ketika keluar dari sistem penampungannya. LPG cair yang berada dalam tekanan dapat berubah menjadi uap setelah terlepas. Uap tersebut kemudian berpotensi membentuk awan gas yang bisa menyala apabila bertemu sumber api.
Risiko itu membuat fasilitas pengisian LPG tidak cukup hanya mengandalkan kepatuhan terhadap prosedur operasional. Kemungkinan kegagalan peralatan dan kesalahan manusia juga perlu diantisipasi. Katup dapat mengalami kerusakan, segel bisa bocor, sementara instrumen mungkin gagal memberikan pembacaan yang akurat.
Dalam catatannya, Slamet menulis, “Ledakan tidak dimulai dari ledakan. Ia dimulai dari containment LPG yang gagal.” Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa ledakan merupakan bagian akhir dari rangkaian kegagalan pengendalian bahan berbahaya, bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Lapisan Pengaman Harus Tetap Berfungsi
Slamet menyoroti perlunya barrier atau lapisan pengaman untuk mencegah bahaya meningkat menjadi bencana. Lapisan itu dapat mencakup detektor gas, alarm, katup darurat, sistem penghentian operasi otomatis, prosedur kerja, serta keputusan operator.
Setiap lapisan memiliki peran berbeda, mulai dari mencegah terjadinya insiden, mendeteksi kebocoran, mengendalikan kondisi darurat, hingga mengurangi dampaknya. Apabila salah satu lapisan tidak bekerja, lapisan berikutnya diharapkan tetap mampu membatasi eskalasi kejadian.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keselamatan fasilitas tidak seharusnya bergantung pada satu perangkat atau satu keputusan manusia. Pengelola perlu memastikan seluruh sistem pengaman tersedia, berfungsi, dan dapat merespons berbagai skenario kebocoran yang mungkin terjadi.
Dampak Insiden Berlanjut Setelah Api Padam
Pembelajaran dari insiden Cimuning, menurut Slamet, tidak berhenti pada upaya memadamkan api. Kecelakaan industri dapat menimbulkan konsekuensi lanjutan bagi korban dan keluarga terdampak.
Korban masih harus menjalani perawatan, sedangkan keluarga mereka menghadapi dampak yang dapat berlangsung lebih lama. Karena itu, pencegahan sejak munculnya tanda awal bahaya menjadi bagian penting dari keselamatan operasi fasilitas LPG.
Dengan penyebab resmi yang masih menunggu investigasi, pembahasan mengenai sistem pengaman berlapis menjadi pengingat bahwa pengelolaan risiko perlu mencakup deteksi, pengendalian, dan pengurangan dampak apabila terjadi kegagalan containment LPG.



