Pendapatan PTSN Tumbuh 65,2 Persen, tetapi Margin Laba Menyusut pada Semester I-2026
Saham Sat Nusapersada ditutup naik 24,46 persen ke Rp346, sementara estimasi PBV berada di sekitar 0,79 kali.

PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) membukukan pendapatan 182,28 juta dolar AS atau sekitar Rp3,2 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut meningkat 65,2 persen dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 110,32 juta dolar AS.
Kinerja pendapatan itu berjalan beriringan dengan perhatian pasar terhadap valuasi saham PTSN. Berdasarkan asumsi harga saham Rp346, estimasi rasio harga terhadap nilai buku atau Price to Book Value (PBV) perseroan berada di sekitar 0,79 kali, atau masih di bawah satu kali.
PBV di bawah satu kali belum cukup
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, PBV di bawah satu kali tidak secara otomatis menunjukkan saham diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Menurut dia, penilaian terhadap saham perlu dilakukan dengan melihat perkembangan kinerja keuangan secara menyeluruh.
Herditya menyebut investor perlu mencermati kemampuan PTSN dalam mempertahankan margin, meningkatkan laba, dan memperbaiki arus kas operasional. Karena itu, pertumbuhan pendapatan dan posisi PBV yang rendah belum dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menilai prospek saham perseroan.
Beban pokok menekan laba kotor
Mengacu pada laporan keuangan semester I-2026, kenaikan pendapatan PTSN disertai peningkatan beban pokok pendapatan. Beban tersebut mencapai 167,45 juta dolar AS, naik dari 94,96 juta dolar AS pada semester I-2025.
Kenaikan beban pokok membuat laba kotor perseroan turun menjadi 14,83 juta dolar AS, dibandingkan 15,35 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya. Margin laba kotor juga menyusut dari 13,9 persen menjadi 8,1 persen.
Dari sisi beban usaha, PTSN mencatatkan pengeluaran sebesar 7,52 juta dolar AS, sedikit lebih tinggi dibandingkan 7,22 juta dolar AS pada semester I-2025. Perseroan juga membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar 592.288 dolar AS, berbalik dari keuntungan 79.324 dolar AS pada periode sebelumnya.
Beban keuangan turut meningkat menjadi 794.599 dolar AS dari 622.156 dolar AS. Dampaknya, laba sebelum pajak turun menjadi 6,13 juta dolar AS, dibandingkan 8,64 juta dolar AS pada semester I-2025.
Setelah dikurangi pajak penghasilan sebesar 1,44 juta dolar AS, laba tahun berjalan PTSN tercatat 4,69 juta dolar AS pada semester I-2026.
Saham menguat di tengah wacana program ponsel
Pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026, saham PTSN menguat 24,46 persen ke level Rp346. Herditya mengaitkan pergerakan tersebut dengan wacana pemerintah membagikan ponsel gratis kepada sedikitnya 25 juta warga dewasa dari kelompok desil 1-4.
Program itu disebut ditujukan untuk mendukung kepemilikan rekening digital dalam penyaluran bantuan sosial dan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Dengan asumsi harga perangkat Rp1,1 juta per unit, kebutuhan anggaran pengadaannya diperkirakan mencapai Rp27,61 triliun.
PTSN dinilai berpotensi memperoleh manfaat dari kegiatan perakitan dan produksi perangkat tersebut. Meski demikian, penilaian terhadap saham tetap perlu mempertimbangkan kemampuan perseroan menjaga profitabilitas serta memperbaiki arus kas operasional, selain pertumbuhan pendapatan dan rasio PBV.


