Pupuk Indonesia Menargetkan Penurunan Emisi 96 Persen pada 2050
Peta jalan dekarbonisasi mencakup amonia rendah karbon, energi terbarukan, CCS, serta solusi berbasis alam seluas 365.000 hektare.
KONSTRUKSINEWS.ID – Pupuk Indonesia Group menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada 2050. Sasaran tersebut menjadi bagian dari peta jalan dekarbonisasi yang dipaparkan dalam FGD Panel 6 Annual Meeting BK Kimia PII 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada pekan lalu.
Forum bertajuk Industrial and Commercialization of Decarbonization and Net-Zero Roadmaps itu membahas transisi energi dan penerapan teknologi rendah karbon di sektor industri. Selain strategi dekarbonisasi industri pupuk, diskusi menghadirkan pembahasan mengenai pemanfaatan biomassa serta teknologi penangkapan karbon berbasis mikroalga.
Tahapan target penurunan emisi
PM Sustainability dan Dekarbonisasi PT Pupuk Indonesia (Persero), Rina Mariyana, memaparkan peta jalan Climate Action Pupuk Indonesia Group. Strategi perusahaan mencakup efisiensi energi, penggantian bahan bakar, pemanfaatan karbon dioksida (COâ‚‚), pengembangan amonia rendah karbon, pemakaian energi terbarukan, serta penerapan Carbon Capture and Storage (CCS).
Dalam tahapan awal, Pupuk Indonesia menargetkan pengurangan emisi sebesar 24 persen atau sekitar 3,7 juta ton CO₂ ekuivalen hingga 2030. Target itu meningkat menjadi 45 persen, setara sekitar 8,75 juta ton CO₂ ekuivalen, pada periode 2031–2035.
Untuk periode 2036–2050, perusahaan membidik penurunan emisi hingga 96 persen atau sekitar 25 juta ton CO₂ ekuivalen. Peta jalan tersebut juga mencakup pengembangan amonia biru, hijau, dan merah muda atau pink ammonia.
Upaya pengurangan emisi tidak hanya diarahkan pada proses industri. Pupuk Indonesia Group juga menyiapkan solusi berbasis alam melalui program agroforestri dan restorasi mangrove. Luas area Nature-Based Solutions ditargetkan mencapai 365.000 hektare pada 2050, dengan potensi penyerapan sekitar 3,5 juta ton COâ‚‚ ekuivalen.
Untuk mendukung pengelolaan data, perusahaan menggunakan platform SmartCarbon. Platform ini dimanfaatkan untuk inventarisasi emisi, verifikasi data, dan pemantauan program dekarbonisasi di lingkungan grup perusahaan.
Biomassa sebagai alternatif gas alam
Forum yang sama turut membahas pengolahan tandan kosong kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif. Ir. Triharyo Indrawan Soesilo, yang dikenal sebagai Pak Hengki, menjelaskan pemanfaatan limbah biomassa melalui proses pirolisis untuk menghasilkan synthesis gas atau syngas.
Syngas tersebut berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan gas alam di sektor industri. Berdasarkan materi presentasi, fasilitas yang direncanakan memiliki kapasitas produksi setara sekitar 1,5 juta standar kaki kubik gas alam per hari.
Pengembangan fasilitas itu melibatkan PT Rekayasa Industri dalam perancangan pabrik tiga dimensi. Rencana tersebut juga menggunakan teknologi berlisensi Advance Energy Solutions, yang disebut telah membangun fasilitas serupa di Italia.
Mikroalga untuk menangkap karbon
President Commissioner PT Algatek Karbon Nusantara, Ria Kusuma Dewi, memaparkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) berbasis mikroalga. Teknologi ini memanfaatkan photobioreactor untuk membantu mikroalga menyerap COâ‚‚ melalui proses fotosintesis.
Biomassa yang dihasilkan berpotensi diolah menjadi sejumlah produk, antara lain pupuk hayati, pembenah tanah, minyak alga, dan bahan bakar untuk co-firing.
Dalam studi kasus di fasilitas boiler Zekindo, Jababeka, Ria menyampaikan hasil pengujian reaktor berkapasitas 1.000 liter. Sistem tersebut menerima aliran gas sekitar 65 meter kubik per jam dengan kandungan COâ‚‚ rata-rata 1,1 persen.
Dari sekitar 33,9 kilogram COâ‚‚ yang masuk setiap hari, sistem dilaporkan mampu menangkap sekitar 23,8 kilogram atau 70 persen. Jika beroperasi konsisten selama satu tahun, kapasitas penangkapan itu setara sekitar 8,7 ton COâ‚‚ per tahun.



