Kawasan Industri Indonesia Diburu Investor, Sejumlah KEK Dilaporkan Terisi Penuh

KONSTRUKSINEWS.ID – Sejumlah kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia mencatatkan tingkat keterisian tinggi di tengah meningkatnya minat investor. Bahkan, beberapa kawasan yang tersebar dari Kepulauan Riau hingga Jawa Timur dilaporkan telah terisi penuh.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perkembangan tersebut telah disampaikan langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Kondisi itu dinilai menunjukkan kuatnya daya tarik kawasan industri nasional di tengah persaingan investasi global.
“Saya kemarin lapor Pak Presiden, ‘Pak, ini kawasan-kawasan kita, KEK-nya terjual habis.’ Jadi mulai dari Kepri sampai ke Jawa Timur,” kata Airlangga dalam malam syukuran Rapat Kerja Nasional Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Menurut Airlangga, kawasan industri memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, peningkatan investasi, serta penciptaan lapangan kerja.

Menjadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi
Sejak berdiri pada 1988, HKI dinilai telah berkembang menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan industri nasional. Salah satu perkembangannya terlihat di sepanjang koridor utara Pulau Jawa, mulai dari Bekasi hingga wilayah timur, yang menjadi pusat konsentrasi kawasan industri.
Airlangga menyebut saat ini terdapat 129 kawasan industri yang tersebar di 24 provinsi. Total luas kawasan tersebut mencapai sekitar 170 ribu hektare dan menjadi lokasi operasional bagi kurang lebih 10.400 perusahaan manufaktur.
Aktivitas industri di berbagai kawasan itu diklaim telah menyerap sekitar 4,5 juta tenaga kerja. Karena kontribusinya terhadap investasi dan kesempatan kerja, Airlangga menyebut para pengelola kawasan industri sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional.
Pemerintah juga terus mengembangkan KEK sebagai instrumen untuk menarik investasi baru. Berdasarkan data yang disampaikan Airlangga, nilai investasi yang berkaitan dengan pengembangan kawasan tersebut mencapai hampir Rp7.000 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 2,62 juta orang.
Indonesia Berpeluang Jadi Tujuan Utama Investasi
Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu tujuan investasi utama di ASEAN. Sejumlah negara pesaing mulai menghadapi keterbatasan lahan, kenaikan biaya tenaga kerja, dan meningkatnya kebutuhan energi untuk mendukung kegiatan industri.
Mengacu pada survei Japan External Trade Organization (JETRO), Airlangga menyebut sekitar 70 persen investor yang menjalankan kegiatan usaha di Indonesia berhasil mencatatkan keuntungan.
Meski prospeknya positif, pemerintah mengingatkan pelaku industri untuk mengantisipasi perubahan kebijakan global, termasuk penerapan pajak minimum global atau Global Minimum Tax serta mekanisme penyesuaian karbon lintas batas atau Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).
Penguatan efisiensi, penggunaan energi bersih, dan peningkatan daya saing kawasan industri dinilai menjadi langkah penting agar Indonesia tetap mampu menarik investasi berkualitas dan berkelanjutan.



