Pembangunan Tol Jogja-Solo Picu Transformasi Sosial di Sleman, Warga Beradaptasi dengan Perubahan Ekonomi

KONSTRUKSINEWS.ID – Pembangunan infrastruktur jalan tol di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar memperbaiki konektivitas antarwilayah. Kehadiran infrastruktur tersebut turut mendorong perubahan dalam kehidupan masyarakat, mulai dari mata pencaharian, pola hubungan sosial, hingga cara warga beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan ekonomi.
Perubahan tersebut menjadi salah satu temuan dalam penelitian yang dilakukan Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas (PRKSDK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil penelitian itu dipaparkan dalam seminar bertema transformasi sosial dan ketahanan masyarakat dalam pembangunan berkelanjutan yang digelar bersama Pemerintah Kabupaten Sleman, Kamis (23/7/2026).
Kajian tersebut melihat pembangunan jalan tol dari perspektif yang lebih luas. Tidak hanya menilai manfaat infrastruktur dari sisi konektivitas dan pertumbuhan ekonomi, penelitian juga mengamati konsekuensi sosial yang dirasakan masyarakat sebelum proyek dimulai, selama proses pembangunan berlangsung, hingga setelah jalan tol mulai beroperasi.
Peneliti Ahli Madya PRKSDK BRIN Akhmad Purnama menjelaskan, pembangunan jalan tol di wilayah DIY sejak awal menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya berkaitan dengan keberadaan kawasan cagar budaya serta pemanfaatan lahan Sultan Ground dan Paku Alam Ground.
Namun, pembangunan tetap dilanjutkan karena infrastruktur tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan konektivitas wilayah. Jalan tol juga diharapkan memperlancar pergerakan masyarakat dan distribusi barang sekaligus memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, perubahan fisik yang terjadi akibat pembangunan infrastruktur secara perlahan turut memengaruhi kehidupan masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
“Di balik manfaat ekonomi yang dihasilkan, pembangunan jalan tol juga membawa perubahan sosial yang berlangsung secara bertahap pada masyarakat terdampak,” kata Akhmad.
Penelitian PRKSDK BRIN tersebut mengkaji dua aspek utama, yakni perubahan struktur sosial dan pergeseran pola kehidupan masyarakat. Dalam konteks struktur sosial, penelitian melihat perubahan jenis pekerjaan dan pendapatan, mobilitas sosial, peran tokoh lokal, pembagian peran di tengah masyarakat, serta dampak terhadap lingkungan.
Sementara itu, dari sisi pola kehidupan sosial, penelitian mencermati perubahan interaksi antarwarga, tingkat solidaritas, gaya hidup, partisipasi masyarakat, serta bagaimana warga memanfaatkan dana kompensasi yang diterima dari proses pembebasan lahan.
Dari Pertanian Beralih ke Pekerjaan dan Usaha Baru
Salah satu perubahan paling nyata terlihat pada sektor mata pencaharian. Sebelum pembangunan jalan tol berlangsung, sebagian besar masyarakat di wilayah yang menjadi lokasi kajian masih mengandalkan sektor pertanian sebagai sumber penghasilan.
Kondisi tersebut mengalami perubahan seiring berkurangnya lahan pertanian yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Sebagian warga kemudian mencari sumber pendapatan alternatif dengan bekerja di sektor konstruksi selama proyek berlangsung.
Tidak sedikit pula masyarakat yang beralih menjadi pekerja pendukung proyek, petugas keamanan, maupun membuka usaha kecil untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Setelah jalan tol mulai beroperasi, peluang ekonomi masyarakat berkembang ke sektor yang lebih beragam. Aktivitas perdagangan dan jasa mulai tumbuh seiring meningkatnya aksesibilitas wilayah.
Sektor transportasi, pariwisata, penginapan, kuliner, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut menjadi bidang yang berpotensi berkembang. Perubahan tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk mencari sumber penghasilan baru di luar sektor pertanian.
Namun, transformasi ekonomi tersebut tidak secara otomatis memberikan manfaat yang sama bagi seluruh kelompok masyarakat.
Penelitian BRIN menemukan adanya potensi kesenjangan antara warga yang memperoleh kompensasi dari pembebasan lahan dengan masyarakat yang tidak memiliki aset tanah. Bagi pemilik lahan, dana kompensasi dapat menjadi modal untuk membuka usaha atau melakukan investasi. Sementara masyarakat yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani tidak selalu memperoleh keuntungan ekonomi yang sama.
Sebagian buruh tani memang berhasil berpindah pekerjaan, tetapi perubahan tersebut belum tentu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan secara signifikan.
Di tengah perubahan itu, peran perempuan dalam menopang ekonomi rumah tangga juga semakin terlihat. Sejumlah perempuan mulai terlibat lebih aktif dalam kegiatan ekonomi, antara lain melalui usaha kuliner, kerajinan, UMKM, hingga berbagai jenis layanan jasa.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dapat menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kebijakan pendampingan agar kelompok masyarakat yang rentan tidak tertinggal dalam proses transformasi.
Modal Sosial Menjadi Penyangga Perubahan
Dampak pembangunan jalan tol tidak hanya dirasakan dalam aspek ekonomi. Perubahan penggunaan lahan dan lingkungan tempat tinggal juga berpengaruh terhadap pola interaksi sosial serta hubungan antarwarga.
Peneliti Ahli Utama PRKSDK BRIN Ikawati mengatakan pembangunan infrastruktur perlu dilihat secara menyeluruh karena perubahan fisik suatu wilayah dapat memengaruhi kehidupan sosial masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Menurut dia, pembangunan tidak cukup hanya diukur berdasarkan peningkatan konektivitas atau pertumbuhan ekonomi. Hubungan sosial, nilai budaya, norma yang berkembang di masyarakat, serta kemampuan warga menghadapi perubahan juga perlu mendapatkan perhatian.
Meski menghadapi berbagai perubahan, hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat di wilayah terdampak masih relatif terjaga.
Komunikasi antara warga, pemerintah, dan pihak yang terlibat dalam pembangunan menjadi salah satu faktor yang membantu masyarakat menghadapi perubahan. Proses musyawarah dan dialog juga berperan dalam menjaga kepercayaan serta mengurangi potensi konflik di tengah masyarakat.
Nilai gotong royong, rasa kekeluargaan, toleransi, serta jaringan sosial menjadi modal penting bagi masyarakat untuk beradaptasi.
Selain itu, nilai-nilai seperti penghormatan terhadap leluhur, keadilan, dan transparansi juga tetap menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat meskipun terjadi perubahan besar pada lingkungan sekitar.
Relokasi Fasilitas Sosial Dilakukan melalui Musyawarah
Salah satu bentuk adaptasi yang terlihat selama pembangunan adalah pemindahan sejumlah fasilitas sosial dan budaya. Beberapa fasilitas seperti tempat ibadah dan makam leluhur harus direlokasi akibat kebutuhan pembangunan.
Proses pemindahan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan nilai budaya dan keyakinan masyarakat setempat. Musyawarah menjadi bagian penting agar proses relokasi dapat diterima oleh warga.
Dalam situasi tertentu, masyarakat bahkan menyediakan tempat ibadah sementara selama pembangunan berlangsung. Sikap tersebut menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Bagi masyarakat, pembangunan infrastruktur memang membawa perubahan pada ruang hidup mereka. Namun, perubahan tersebut tetap diupayakan agar tidak menghilangkan nilai-nilai sosial dan budaya yang selama ini menjadi identitas komunitas setempat.
Dana Kompensasi Mulai Diarahkan untuk Kegiatan Produktif
Perubahan juga terlihat dari cara sebagian masyarakat mengelola dana kompensasi pembebasan lahan.
Sebagian warga tidak hanya menggunakan dana tersebut untuk kebutuhan konsumtif, tetapi mulai mengalokasikannya ke kegiatan yang dianggap lebih produktif. Dana kompensasi dimanfaatkan sebagai modal usaha maupun investasi dengan harapan dapat memberikan sumber pendapatan dalam jangka panjang.
Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk kemampuan masyarakat dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan struktur ekonomi akibat pembangunan.
Namun, pengelolaan dana kompensasi tetap menjadi aspek yang perlu mendapatkan perhatian. Tanpa perencanaan keuangan yang baik, dana yang diterima masyarakat berpotensi habis tanpa menghasilkan sumber penghidupan baru.
Karena itu, pendampingan kepada masyarakat terdampak dinilai penting agar kompensasi yang diterima dapat dikelola secara bijak dan memberikan manfaat berkelanjutan.
BRIN Dorong Pembangunan yang Memperkuat Ketahanan Masyarakat
BRIN menilai dampak sosial pembangunan infrastruktur tidak bersifat statis. Perubahan akan terus berlangsung seiring dengan perkembangan wilayah dan meningkatnya aktivitas ekonomi setelah jalan tol beroperasi.
Karena itu, diperlukan pemantauan secara berkelanjutan untuk melihat bagaimana masyarakat beradaptasi dalam jangka panjang.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengukur tingkat ketahanan masyarakat, perubahan modal sosial, kemampuan warga dalam menghadapi norma dan pola kehidupan baru, serta strategi untuk meningkatkan kesejahteraan kelompok yang terdampak.
Ikawati berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kabupaten Sleman dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun kebijakan pembangunan.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur seharusnya tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Aspek sosial dan budaya juga harus menjadi bagian penting dalam setiap kebijakan pembangunan.
Dengan demikian, manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata sekaligus menjaga kohesi sosial masyarakat.
PRKSDK BRIN merekomendasikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah, antara lain memperluas ruang publik yang inklusif, meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan, serta menjaga nilai budaya lokal.
Selain itu, masyarakat yang menerima kompensasi pembebasan lahan perlu mendapatkan pendampingan dalam mengelola dana tersebut. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan nilai sosial di tengah perubahan.
Pemerintah di tingkat kalurahan juga diharapkan memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam mengelola dampak perubahan sosial yang muncul akibat pembangunan infrastruktur.
Pembangunan jalan tol di Sleman pada akhirnya menunjukkan bahwa proyek infrastruktur berskala besar dapat membawa dampak berlapis bagi masyarakat. Di satu sisi, jalan tol meningkatkan aksesibilitas, mempercepat mobilitas, dan membuka peluang ekonomi baru. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga dapat memengaruhi pola mata pencaharian, struktur sosial, penggunaan lahan, hingga hubungan antarwarga.
Karena itu, pembangunan infrastruktur ke depan perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Keberhasilan sebuah proyek tidak hanya ditentukan oleh terselesaikannya konstruksi fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan memperoleh manfaat dari perubahan yang terjadi.
Dengan memperkuat partisipasi warga, menjaga nilai budaya lokal, memberikan pendampingan kepada kelompok terdampak, serta mempertahankan modal sosial yang telah tumbuh di masyarakat, pembangunan infrastruktur diharapkan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan dan ketahanan sosial masyarakat.



